Main Article Content

Abstract

Lichen merupakan salah satu jenis tumbuhan tingkat rendah dari hasil simbiosis dari alga dan jamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat keanekaragaman lichen di Taman Wisata Alam Bancea. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode plot di tiga stasiun yang ditentukan secara purposive sampling berdasarkan ketinggian yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lichen yang ditemukan sebanyak 22 jenis lichen yaitu Phlyctis argena, Hypogymnia physodes, Phlyctis agelaea, Phaeophyscia orbicularis, Pannaria tavaresii, Punctelia borreri, Collema tenax, Cladonia caespiticia, Parmelia sulcata, Parmotrema perlatum, Heterodermia albicans, Thelotrema subtile, Cryptothecia scripta, Pyrenula concatervans, Lepraria umbricola, Herpothallun sanguineum, Trypethelium virens, Punctelia rudecta, Chrysothrix candelaris, Cryptothecia striata, Leptogium subtile, dan Pannaria rubiginosa. Hasil analisis indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan kategori sedang dengan nilai H’= 2.811.

Article Details

Author Biographies

Muhammad Yazid Ilmany, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan Biologi

Lestari M. P. Alibasyah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan Biologi

Andi Tanra Tellu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan Biologi

Amalia Buntu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan BIologi

Vita Indri Febriani, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Pendidikan Biologi

References

  1. Andrea, E. S., Zuhri, R., & Marlina, L. (2018). Identifikasi jenis lichen di kawasan Objek Wisata Teluk Wang Sakti. BIOCOLONY. 1(2): 7-15.
  2. Ernilasari, Rahmawati, L., & Mahdi, N. (2015). Keanekaragaman jenis lichens di Pegunungan Gle Jaba Kecamatan Lhoong Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Biotik (hlm 135-137). Banda Aceh: FTK UIN Ar-Raniry.
  3. Fatimaturrohmah, R. P., & Roziaty, E. (2020). Keanekaragaman jenis lichen epifit di Kawasan Cemoro Sewu Magetan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (hlm. 159-164). Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
  4. Furi, A. R., & Roziaty, E. (2016). Eksplorasi lichen di Sepanjang Jalan Raya Solo Tawangmangu dan Kawasan Hutan Sekipan Karanganyar Jawa Tengah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
  5. Gauslaa, Y., & Solhaug, K. A. (1998). Hight-light damage in Air-dry Thalli of Old Forest Lichen Lobaria pulmonaria: interaction of irradiance, exposure duration and high temperature. J Exprmt. Bot 5. 5(334): 697-705.
  6. Handono, A., Tohir, R. K., Sutrisno, Y., Brillianti, D. H., Tryfani, D., Oktorina, P., & Hayati, A. N. (2015). Keanekaragaman lumut kerak (lichens) sebagai bioindikator kualitas udara di kawasan asrama nasional IPB. Journal of Chemical Information and Modeling. 53(9): 1689-1699.
  7. Istam, Y. C. (2007). Respon lumut kerak pada vegetasi pohon sebagai indikator pencemaran udara di Kebun Raya Bogor dan Hutan Kota Mangalawana Bhakti. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
  8. Khaerulmaddy. (2010). Lumut kerak (lichens). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  9. Michael, P. (1995). Metode ekologi untuk penyidikan lapangan dan laboratorium. Terjemahan Yanti R. Koester. Jakarta: UI Press. ISBN: 9794561304. PP. 631.
  10. Mulyadi. (2017). Jenis lichen di Kawasan Gugop Pulo Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aech Besar. BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan. 5(2): 83-87.
  11. Muvidha, A. (2020). Lichen di Jawa Timur. Tulungaung: Akademia Pustaka.
  12. Odum, E. P. (1996). Dasar-dasar ekolog (edisi ketiga). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  13. Pondo, H. Y., Mallombasang, S. N., Sustri, S., & Sudhartono A., (2020). Karakteristik pohon inang anggrek di Kawasan Taman Wisata Alam Desa Bancea Kecamatan Pamona Selatan Kabupaten Poso. Warta Rimba: Jurnal Ilmiah Kehutanan. 10(3): 156-160.
  14. Roziaty, E. (2016a). Kajian lichen: morfologi, habitat dan bioindicator kualitas udara ambien akibat polusi kendaraan bermotor. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi. 2(1): 54-66.
  15. Sundberg, B., Palmvqist, K. Essen, P. A., & Renhorn K. E. (1996). Growth and vitality of epiphytic lichen: Modelling of carbon gain using field and laboratory data. J. Oecologia. 2(109): 10-18.
  16. Tjitrosoepomo, G. (2005). Taksonomi tumbuhan (schizophyta, thallophyta, bryophyta, pteridophyta). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  17. Ulfira. (2017). Keanekaragaman lichens di sekitar Kampus UIN AR-Raniry sebagai bioindikator udara pada mata kuliah ekologi dan masalah lingkungan. Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Rainy.